“Oh ya? Aku tidak percaya! Jadi kau bekerja sebagai apa?” tanya Natasha. “Mungkin ia bekerja sebagai budak!” ledekku. Aku dan Natasha tertawa lagi. “Diam!” kata Arnold. Tapi kami tidak diam. “Tua, tua, tua bangka! Tua, tua, tua bangka! Terkenalnya sementara doang! Kamu kocak deh!” seruku. “Untung saja sekarang aku hanya suka Maikel Jeksen! Meskipun menurutku mata biru dan rambut pirang itu keren…,” “Maksudnya aku? Makasih, Rose!” Natasha kegeeran. “Ih, jangan kegeeran deh, Nat!” umpatku. “Hehehe…,” Natasha nyengir.
“Ngomong-ngomong, kita mau ke mana, Nol?” goda Natasha. “Ke mana aja boleh,” jawab Arnold singkat. “Baiklah, kalau begitu, bawalah kami ke dunia antah berantah!” perintahku. “Sudahlah Rose Worthingale, biarkan saja Tuan Nol membawa kita ke ‘mana aja boleh’!” hibur Natasha, terkikik geli. “Baiklah.” Aku bertopang dagu (hanya satu tangan yang diborgol).
“Sekarang jam berapa, Tuan Nol?” tanyaku. “Jam berapa, ya? Kasih tahu, nggak ya?” jawab Arnold. Wah, ia membalas! Aku kicep. “Hahaha, kehabisan kata-kata, ya? Hahahahahahahahahahahaha!” sekarang Arnold yang tertawa. “Tidak. Aku hanya mau diam saja,” aku berbohong. “Kau berbohong!” elak Arnold. Serius, semuanya berjalan dengan aneh. “Aku ingat kamu! Aku pernah menangkapmu, dan sekarang aku menangkapmu lagi! Bersama temanmu!” tiba-tiba Arnold berseru. “Aku pernah ditangkap sama orang kayak kamu? Maaf, ya! Aku nggak level sama orang dodol!” ejek Natasha.
Entah di mana aku sekarang. Kurasa aku sudah tidak di kapal Arnold lagi. Hal yang terakhir aku ingat adalah aku tertidur dalam perjalanan menuju ‘mana aja boleh’. Tapi siapa yang menaruhku di tempat gelap dan kotor ini? Dan, di manakah Natasha?
Aku berusaha mengeluarkan diri dari tempat ini, tapi sia-sia. Tempat ini sangat sempit. Aku berteriak minta tolong. “Keluarkan aku dari sini! Tolong aku!” Aku terus berteriak seperti itu, tapi tak ada yang mendengar. Aku mulai menangis. “Ya Tuhan….bebaskan aku dari penderitaan ini…,” isakku. “Aku bosan berada di sini!”
Tiba-tiba dinding terbelah menjadi dua. Seseorang menarikku. “Aku akan membebaskanmu! Cepat, ikut aku!” kata orang itu. “Baiklah,” Aku mengikuti orang itu sampai di sebuah kubah emas. “Terimakasih telah menolongku. Ngomong-ngomong, siapa kamu?” Orang itu, yang berpakaian seperti ninja (kayak si Arnold tadi) tidak menjawab, lalu langsung kabur.
“Sepertinya ini adalah tempat persembunyian Arnold,” gumamku. “Sekarang aku tinggal mencarinya dan Natasha. Tapi aku bingung, mengapa semua orang memakai pakaian seperti ninja? Apakah mereka ingin menjadi Ninja Hatori, tokoh kartun kesukaan adikku?” Aku berjalan memutari kubah itu.
Tiba-tiba saja, saat aku berhenti berputar, aku berada di depan sebuah rak buku! “Apakah ini perpustakaan?” tanyaku. Di depanku juga ada sebuah buku. Judulnya Ilmu Sihir Hitam. “Buku apa ini?” Aku penasaran, lalu mulai membacanya. “Hmm....ada Daftar Penyihir Hitam Masa Kini! Aku lihat, ah,” aku meneliti bagian itu.
Di bagian itu, Daftar Penyihir Hitam Masa Kini, terdapat foto-foto. Aku terus membuka lembaran-lembaran buku tersebut. Setiap aku membuka lembaran, fotonya bertambah. Lalu aku melihat foto yang familiar. Tentu saja. Itu adalah foto Arnold. “Arnold adalah penyihir hitam?! Pantas saja dia dapat menyihirku menjadi kuda poni!” seruku terkejut. Lalu, aku melihat informasi di bawah foto Arnold.
Salah satu penyihir paling jahat sepanjang masa. Sebenarnya, dia adalah orang baik. Mulai belajar ilmu hitam tahun 1994. Memiliki ilmu untuk bereinkarnasi. Dulu, akrab dengan penjual popcorn nomor 1 di dunia, Maikel Jeksen.
“Oh,” ujarku. Tapi aku melihat salah satu kalimat. “Memiliki ilmu untuk bereinkarnasi? Bereinkarnasi?! Ampun, deh! Buku ini pasti sangat dahsyat, dapat membuat anak innocent begitu menjadi penyihir kejam! Aaaaaaaaaaaaaaaaah!” Aku berteriak-teriak. Tanpa sadar, aku berjalan memutari rak buku tadi.
Dan lagi, ketika aku berhenti berputar, aku sudah berada di tempat lain. Di depanku, ada sebuah meja makan besar berwarna coklat. Kemudian, ada seorang anak. Anak itu tak lain adalah Natasha. “Hei, Rose!” panggilnya. “Sini!” Aku menghampiri Natasha.
“Bukankah kamu dikurung?” tanya Natasha. “Bagaimana kamu bisa lolos?” Aku menjawab. “Aku dibebaskan oleh seseorang berbaju ninja, seperti Tuan Nol tadi. Lalu aku sampai di perpustakaan, dan aku ke sini,” “Kalau buku itu?” Natasha menunjuk buku yang kupegang. “Eh…buku apa ini? Lho, kok , tiba-tiba ada di tanganku? Serem!” aku melempar buku itu ke lantai. “Padahal tadi aku nggak bawa, lho.”
“Emangnya itu buku tentang apa, sih? Nanya nggak dijawab!” desak Natasha. “Itu buku tentang….ilmu hitam,” jawabku bergidik ngeri. “Entah mengapa, tiba-tiba buku itu berpindah ke tanganku.” Natasha mengangguk mengerti.
Apa Natasha tertarik membaca buku ilmu hitam tersebut? Dimanakah Arnold? Siapakah penulis cerita ini?
Semua terjawab di bagian selanjutnya, saudara-saudara!
Saturday, July 9, 2011
Friday, July 8, 2011
Rose and the Pirates of Dimensia (part 3)
Aku memandang Natasha tajam. “Aku lupa,” bisiknya sambil nyengir. “Jadi, kita akan makan apa, Kapten Andres?” tanyaku lagi. “Maafkan aku, tapi kami hanya punya nasi putih,” ujar Kapten Andres lesu. “Aaaah, nggak seru nih, si Kapten!” protes Natasha. “Sudahlah, Natasha. Aku baru ingat kalau aku menaruh sebungkus biskuit di kantung celanaku. Ambillah,” Aku menyerahkan biskuit kepada Natasha. “Makasih!” Ia langsung melahapnya. Sekarang lenyap sudah makananku.
“Tidak apa-apa, Nona Muda. Aku juga punya kue wortel untukmu,” hibur Kapten Andres. “Kalian berdua tak usah makan nasi.” “Tapi itu tidak adil!” sahut seorang teman Kapten Andres. Tiba-tiba Natasha naik ke atas meja makan (nggak sopan banget, ckckck -_-“).
“Saudaraku sekalian, aku akan menunjukkan kalian tarianku yang paling keren. Tapi, aku butuh radio kalian dulu,” ujarnya. Bob memberikan sebuah radio usang. “Terimakasih. Nah, sekarang perhatikan dan pelajari,” Natasha mengeluarkan sebuah kaset, memasukkannya ke dalam radio, mengatur ini-itu, dan lain-lain. Ia naik lagi ke atas meja makan.
Musik mulai terdengar. Sepertinya aku pernah mendengar lagu ini. Tapi aku tak mengerti bahasanya. Lagu apa, ya? Aku mengernyitkan dahi.
Natasha mulai menari. Tariannya itu seperti tarian dari negeri Taj Mahal, India. APA? Natasha bisa menari India? Aku kebingungan. Lalu ia mulai menyanyi-nyanyi. “Bole chudiyan….,” suaranya yang merdu melantunkan lirik berbahasa aneh.
Ternyata, Natasha suka lagu-lagu India! Ia sedang menari-nari dengan lagu Bole Chudiyan! Lagu itu ada di sebuah film India zaman dulu, tapi aku lupa judul dan tahun filmnya. Paling-paling yang aku tahu judul dan filmnya adalah film-film kesukaanku dulu, tapi sekarang saja melihat pemainnya mau muntah.
“Ayo, Rose! Ikutlah menari bersamaku! Ini lagu India paling keren sejagat! Tapi yang paling keren itu si Shahrukh Khan! Dia ganteng banget!” seru Natasha. APA? Natasha yang keren dan cantik itu sukanya Shahrukh Khan? Aku tidak habis pikir. Dunia ini memang aneh.
Maka terpaksa saja aku ikut menari, dengan gerakan aneh. Kapten Andres dan teman-temannya ikut menari dan bersorak sorai. Tarian mereka kocak-kocak. “Lecha lecha…..lecha lecha…..,” Natasha menyanyi-nyanyi. Musik bertambah cepat. Ia menghentak-hentakkan kaki. Kami semua menari-nari dengan sangat dahsyat.
Hingga pada saat terakhir, Natasha bergaya sok anggun sambil memeluk-melukku. Semua bertepuk tangan, termasuk aku. “Keren banget, Nat!” seruku girang. “Kami langsung kenyang mendengar nyanyian dan tarianmu!” ujar Charles dan Bob. “Terimakasih, terimakasih,” Natasha membungkukkan badan. Kami memberinya standing ovation.
BRAAAK! Pintu ruang makan didobrak. Seseorang yang berpakaian mirip ninja masuk sambil membawa shuriken dan pedang. “Angkat tangan, kalian semua! Kalau tidak, aku akan membunuhmu!” serunya dengan suara bapak-bapak (penting banget, ya?). Semua mengangkat tangan dengan ketakutan. “Dia datang,” bisik Kapten Andres. Natasha malah mengacungkan jarinya, lalu maju ke depan tanpa disuruh.
“Jangan ngerusak suasana, dong! Orang lagi joget-joget pakai lagu India! Kalau begitu, kau harus ikut menari denganku!” Natasha menarik tangan orang berpakaian ninja tersebut. Saat itu, lagu yang terputar adalah lagu Chaiyya Chaiyya. Natasha mulai menari lagi, namun dengan gerakan yang berbeda. “Akulah Natasha Thornton dengan tariannya yang keren!” serunya. Kami semua, yang ketakutan, jadi terhibur. Kami ikut menari. Si ninja itu tetap diam. Ia malah ditarik tangannya oleh Natasha, lalu mulai menari waltz. Ternyata Natasha banyak akalnya, ya? Penjahat aja diajak joget. Dasar Natasha!
Tapi akhirnya si ninja tidak lengah. Ia malah merampas tanganku dan Natasha, lalu memborgol kami. “Jangan mereka! Nanti kami kelaparan tanpa anak pirang itu!” seru Kapten Andres dan teman-temannya. Namun si ninja diam saja. Ia membawa pergi aku dan Natasha. “Tolong!” teriak Natasha. Kami dibawa menjauh dari ruang makan. “Mau dibawa kemana kita?” tanyaku. Ninja tersebut diam saja. Ia meloncat ke kapalnya, tetap membawa kami. Jago sekali dia. Sesampainya di dalam kapal, si ninja meletakkan kami di belakang kemudi kapalnya. Kemudian, ia membuka penutup kepala. Ternyata, dia adalah….
“Arnold!” seru aku dan Natasha serempak. “Memang. Terus kenapa?” tanya ninja tadi dengan ketus. “Tidak apa-apa,” jawabku. “Kenapa, sih, nangkap kita? Kenal aja nggak!” kata Natasha. “Hmmm. Natasha. Sudah berubah,” sindir Arnold. “Ih, SKSD banget! Emang kamu siapa, sih?” sahutku sambil merangkul bahu Natasha. “Kurasa kalian berdua sudah mengatakannya kepada ‘ayah’ku,” ia mengerdipkan mata. Ih!
“Oh. Jadi benar dugaanku,” kata Natasha. “Wah! Aku keren! Aku bisa tahu kalau celana dalammu biru!” “Ssssh!” tegurku sambil menyikut lengannya. “Iya, iya!” bisiknya. “Diam kalian, anak-anak aneh!” kata Arnold dengan kasar. “Kalian membuyarkan konsentrasiku.”
“Iya deh, yang udah tua! Iya deh, yang udah pensiun! Iya deh, yang udah dewasa!” ejekku dan Natasha. “APA?! Aku belum pensiun!” elak Arnold. Aku dan Natasha tertawa tergelak-gelak.
Apakah Rose dan Natasha akan terus mengejek Arnold? Akan dibawa kemanakah mereka berdua? Apakah ada orang yang akan menyelamatkan mereka?
Semua terjawab di bagian selanjutnya.
“Tidak apa-apa, Nona Muda. Aku juga punya kue wortel untukmu,” hibur Kapten Andres. “Kalian berdua tak usah makan nasi.” “Tapi itu tidak adil!” sahut seorang teman Kapten Andres. Tiba-tiba Natasha naik ke atas meja makan (nggak sopan banget, ckckck -_-“).
“Saudaraku sekalian, aku akan menunjukkan kalian tarianku yang paling keren. Tapi, aku butuh radio kalian dulu,” ujarnya. Bob memberikan sebuah radio usang. “Terimakasih. Nah, sekarang perhatikan dan pelajari,” Natasha mengeluarkan sebuah kaset, memasukkannya ke dalam radio, mengatur ini-itu, dan lain-lain. Ia naik lagi ke atas meja makan.
Musik mulai terdengar. Sepertinya aku pernah mendengar lagu ini. Tapi aku tak mengerti bahasanya. Lagu apa, ya? Aku mengernyitkan dahi.
Natasha mulai menari. Tariannya itu seperti tarian dari negeri Taj Mahal, India. APA? Natasha bisa menari India? Aku kebingungan. Lalu ia mulai menyanyi-nyanyi. “Bole chudiyan….,” suaranya yang merdu melantunkan lirik berbahasa aneh.
Ternyata, Natasha suka lagu-lagu India! Ia sedang menari-nari dengan lagu Bole Chudiyan! Lagu itu ada di sebuah film India zaman dulu, tapi aku lupa judul dan tahun filmnya. Paling-paling yang aku tahu judul dan filmnya adalah film-film kesukaanku dulu, tapi sekarang saja melihat pemainnya mau muntah.
“Ayo, Rose! Ikutlah menari bersamaku! Ini lagu India paling keren sejagat! Tapi yang paling keren itu si Shahrukh Khan! Dia ganteng banget!” seru Natasha. APA? Natasha yang keren dan cantik itu sukanya Shahrukh Khan? Aku tidak habis pikir. Dunia ini memang aneh.
Maka terpaksa saja aku ikut menari, dengan gerakan aneh. Kapten Andres dan teman-temannya ikut menari dan bersorak sorai. Tarian mereka kocak-kocak. “Lecha lecha…..lecha lecha…..,” Natasha menyanyi-nyanyi. Musik bertambah cepat. Ia menghentak-hentakkan kaki. Kami semua menari-nari dengan sangat dahsyat.
Hingga pada saat terakhir, Natasha bergaya sok anggun sambil memeluk-melukku. Semua bertepuk tangan, termasuk aku. “Keren banget, Nat!” seruku girang. “Kami langsung kenyang mendengar nyanyian dan tarianmu!” ujar Charles dan Bob. “Terimakasih, terimakasih,” Natasha membungkukkan badan. Kami memberinya standing ovation.
BRAAAK! Pintu ruang makan didobrak. Seseorang yang berpakaian mirip ninja masuk sambil membawa shuriken dan pedang. “Angkat tangan, kalian semua! Kalau tidak, aku akan membunuhmu!” serunya dengan suara bapak-bapak (penting banget, ya?). Semua mengangkat tangan dengan ketakutan. “Dia datang,” bisik Kapten Andres. Natasha malah mengacungkan jarinya, lalu maju ke depan tanpa disuruh.
“Jangan ngerusak suasana, dong! Orang lagi joget-joget pakai lagu India! Kalau begitu, kau harus ikut menari denganku!” Natasha menarik tangan orang berpakaian ninja tersebut. Saat itu, lagu yang terputar adalah lagu Chaiyya Chaiyya. Natasha mulai menari lagi, namun dengan gerakan yang berbeda. “Akulah Natasha Thornton dengan tariannya yang keren!” serunya. Kami semua, yang ketakutan, jadi terhibur. Kami ikut menari. Si ninja itu tetap diam. Ia malah ditarik tangannya oleh Natasha, lalu mulai menari waltz. Ternyata Natasha banyak akalnya, ya? Penjahat aja diajak joget. Dasar Natasha!
Tapi akhirnya si ninja tidak lengah. Ia malah merampas tanganku dan Natasha, lalu memborgol kami. “Jangan mereka! Nanti kami kelaparan tanpa anak pirang itu!” seru Kapten Andres dan teman-temannya. Namun si ninja diam saja. Ia membawa pergi aku dan Natasha. “Tolong!” teriak Natasha. Kami dibawa menjauh dari ruang makan. “Mau dibawa kemana kita?” tanyaku. Ninja tersebut diam saja. Ia meloncat ke kapalnya, tetap membawa kami. Jago sekali dia. Sesampainya di dalam kapal, si ninja meletakkan kami di belakang kemudi kapalnya. Kemudian, ia membuka penutup kepala. Ternyata, dia adalah….
“Arnold!” seru aku dan Natasha serempak. “Memang. Terus kenapa?” tanya ninja tadi dengan ketus. “Tidak apa-apa,” jawabku. “Kenapa, sih, nangkap kita? Kenal aja nggak!” kata Natasha. “Hmmm. Natasha. Sudah berubah,” sindir Arnold. “Ih, SKSD banget! Emang kamu siapa, sih?” sahutku sambil merangkul bahu Natasha. “Kurasa kalian berdua sudah mengatakannya kepada ‘ayah’ku,” ia mengerdipkan mata. Ih!
“Oh. Jadi benar dugaanku,” kata Natasha. “Wah! Aku keren! Aku bisa tahu kalau celana dalammu biru!” “Ssssh!” tegurku sambil menyikut lengannya. “Iya, iya!” bisiknya. “Diam kalian, anak-anak aneh!” kata Arnold dengan kasar. “Kalian membuyarkan konsentrasiku.”
“Iya deh, yang udah tua! Iya deh, yang udah pensiun! Iya deh, yang udah dewasa!” ejekku dan Natasha. “APA?! Aku belum pensiun!” elak Arnold. Aku dan Natasha tertawa tergelak-gelak.
Apakah Rose dan Natasha akan terus mengejek Arnold? Akan dibawa kemanakah mereka berdua? Apakah ada orang yang akan menyelamatkan mereka?
Semua terjawab di bagian selanjutnya.
Thursday, July 7, 2011
Rose and the Pirates of Dimensia (Part 2)
“Hei, di mana kita?” tanya Natasha sambil garuk-garuk kepala. Aku melihat sekelilingku. Lantai dan tembok tiba-tiba berubah menjadi kayu, dan lantai dan tembok tersebut terombang-ambing oleh benda biru yang sangat banyak. Tak lain, kami berada di….
“Dalam kapal!” seruku. “Natasha, kita berada di kapal seseorang! Tapi aku tidak tahu ini kapal siapa,” Natasha diam saja. “Kenapa, Natasha?” tanyaku. “Di belakangmu….,” Natasha menunjuk seseorang bertubuh besar membawa pedang. “Aaaah!” aku dan Natasha mengambil langkah seribu. Orang bertubuh besar itu juga mengejar kami. “Penyusup!” kata orang itu. Kami terus berlari sampai kehabisan tenaga.
“Hosh, hosh…..aku capek, Rose,” Natasha duduk. “Ha! Kalian tertangkap, anak-anak jelek!” orang itu tertawa. “Kapten pasti senang.” Orang itu mengikatkan kami ke sebuah tiang dengan tali tambang. Lalu, ia pergi.
“Harusnya kamu tadi tetap lari! Jangan malah duduk!” bisikku kesal. “Maaf,” balas Natasha dengan wajah memelas. “Iya, iya. Aku maafkan kamu,” Kami saling memandang. “Pssst!” ujar Natasha. Aku mendengar suara langkah kaki seseorang. “Kapten, saya telah berhasil menangkap dua penyusup cilik. Siapa tahu mereka utusan anak Anda,” kata orang bertubuh besar tadi. Anak? Kurasa aku jadi ingat sesuatu. Tapi apa?
“Bagus, Charles. Sekarang, pergilah. Aku akan bicara dengan kedua anak ini,” balas sebuah suara. “Baiklah, Kapten Andres!” Orang yang bernama Charles itu pergi. “Hei, kurasa aku pernah mendengar orang bernama Kapten Andres,” bisik Natasha. “Aku juga,” sahutku.
Kemudian, sesosok besar datang ke arah kami. “Kalian berdua utusan anakku, ya?” tanyanya tajam. Kami menggeleng. “Bohong!” elaknya. “Aku, Kapten Andres, tidak suka pembohong!” Lalu Natasha menjawab, “Anakmu yang mana? Setahuku, tak ada yang sudi menikah denganmu karena jenggotmu yang sepanjang rambut ibuku itu! Hahahaha!” Sekadar tahu saja, ibu Natasha berambut sangat panjang. Kapten Andres mendengus.
“Tak tahukah kalian, siapa aku?” katanya. “Aku ini Kapten Andres! Penguasa lautan ini!” Ia membusungkan dada. “Oh ya? Ah, masa?” ejek Natasha. “Iya! Anakku itu, si Arnold bau!” tukas Kapten Andres. “Kamu juga bau, Kapten,” tambahku. “Kurang ajar!” Kapten Andres mengacungkan pedang ke arahku. Aku berhenti tersenyum.
“Jangan acung-acungin pedang, dong! Lebay banget! Santai, bro!” lerai Natasha. Kapten Andres juga berhenti mengacungkan pedangnya kepadaku. “Baiklah,” kata Kapten Andres, “tapi beritahu aku apa yang kalian ketahui tentang Arnold, dimulai dari kamu,” Kapten Andres menunjukku.
“Ehm….Arnold adalah manusia,” ujarku yang kebingungan. “Matanya biru, rambutnya pirang, dan sekarang umurnya sudah sepertiga umurmu.” Kapten Andres mengangguk-ngangguk.
“Kalau kamu?” Ia menunjuk Natasha. “Arnold adalah orang aneh! Semua celana dalamnya berwarna biru! Temennya Maikel Jeksen! Suka minum Burpee! Paling anti sama korupsi, eh…..bukan! Itu mah Si Mamat Anak Pasar Jangkrik! Hehehe…,” Natasha tertawa keras setelah itu. “Aku tidak peduli apa warna celana dalamnya, Nona Muda,” sindir Kapten Andres. “Ya sudah kalau begitu. Arnold juga pernah main film, main gitar sampai menerbangkan orang lain, jadi orang tajir, bla, bla, bla…,” Natasha terus bercerocos tentang Arnold. Sejujurnya saja, aku yang memberitahu semua itu, lho. Tapi itu bukan cerita tentang Arnold, itu cerita tentang orang lain. Kami hanya menebak-nebak siapa itu Arnold.
“Terserah!” Kapten Andres mengakhiri pembicaraan Natasha. Aku mendesah lega, karena aku sudah sekian kali mendengarnya. “Sekarang aku izinkan kalian untuk makan,” Kapten Andres melepaskan tali yang sudah mengikat aku dan Natasha selama berjam-jam. “Untunglah kami dibebaskan. Terimakasih, Kapten!” kata Natasha sok imut. Kapten Andres hanya mengangguk. Kami mengikuti Kapten Andres menuju ruang makan.
“Kapten, makanannya apa?” tanyaku. “Yah, biasa. Hanya sup seafood dan nasi,” jawab Kapten Andres. “Hore! Itu makanan favoritku setelah pisang bakar!” celetuk Natasha. “Sssh! Aku menyuruh Natasha diam.
Di ruang makan…
“Mana makanannya, Bob?” tanya Kapten Andres. “Maaf, Kapten. Saya kehabisan lauk untuk makan. Terpaksa saya hanya bisa memberi Anda dan dua anak ini nasi,” jawab Bob dengan lesu. “TIDAAAAAAAAAK!!!!!!!!!!” teriak Natasha. Sepertinya dia lupa untuk diam.
Apa yang akan dimakan oleh Kapten Andres, Rose dan Natasha, dan teman-teman Kapten Andres? Apa yang dilakukan Natasha untuk menghibur teman-teman Kapten Andres? Sebenarnya, siapa itu Arnold? Mengapa manusia tidak punya sayap? (canda)
Semua terjawab di bagian selanjutnya!
“Dalam kapal!” seruku. “Natasha, kita berada di kapal seseorang! Tapi aku tidak tahu ini kapal siapa,” Natasha diam saja. “Kenapa, Natasha?” tanyaku. “Di belakangmu….,” Natasha menunjuk seseorang bertubuh besar membawa pedang. “Aaaah!” aku dan Natasha mengambil langkah seribu. Orang bertubuh besar itu juga mengejar kami. “Penyusup!” kata orang itu. Kami terus berlari sampai kehabisan tenaga.
“Hosh, hosh…..aku capek, Rose,” Natasha duduk. “Ha! Kalian tertangkap, anak-anak jelek!” orang itu tertawa. “Kapten pasti senang.” Orang itu mengikatkan kami ke sebuah tiang dengan tali tambang. Lalu, ia pergi.
“Harusnya kamu tadi tetap lari! Jangan malah duduk!” bisikku kesal. “Maaf,” balas Natasha dengan wajah memelas. “Iya, iya. Aku maafkan kamu,” Kami saling memandang. “Pssst!” ujar Natasha. Aku mendengar suara langkah kaki seseorang. “Kapten, saya telah berhasil menangkap dua penyusup cilik. Siapa tahu mereka utusan anak Anda,” kata orang bertubuh besar tadi. Anak? Kurasa aku jadi ingat sesuatu. Tapi apa?
“Bagus, Charles. Sekarang, pergilah. Aku akan bicara dengan kedua anak ini,” balas sebuah suara. “Baiklah, Kapten Andres!” Orang yang bernama Charles itu pergi. “Hei, kurasa aku pernah mendengar orang bernama Kapten Andres,” bisik Natasha. “Aku juga,” sahutku.
Kemudian, sesosok besar datang ke arah kami. “Kalian berdua utusan anakku, ya?” tanyanya tajam. Kami menggeleng. “Bohong!” elaknya. “Aku, Kapten Andres, tidak suka pembohong!” Lalu Natasha menjawab, “Anakmu yang mana? Setahuku, tak ada yang sudi menikah denganmu karena jenggotmu yang sepanjang rambut ibuku itu! Hahahaha!” Sekadar tahu saja, ibu Natasha berambut sangat panjang. Kapten Andres mendengus.
“Tak tahukah kalian, siapa aku?” katanya. “Aku ini Kapten Andres! Penguasa lautan ini!” Ia membusungkan dada. “Oh ya? Ah, masa?” ejek Natasha. “Iya! Anakku itu, si Arnold bau!” tukas Kapten Andres. “Kamu juga bau, Kapten,” tambahku. “Kurang ajar!” Kapten Andres mengacungkan pedang ke arahku. Aku berhenti tersenyum.
“Jangan acung-acungin pedang, dong! Lebay banget! Santai, bro!” lerai Natasha. Kapten Andres juga berhenti mengacungkan pedangnya kepadaku. “Baiklah,” kata Kapten Andres, “tapi beritahu aku apa yang kalian ketahui tentang Arnold, dimulai dari kamu,” Kapten Andres menunjukku.
“Ehm….Arnold adalah manusia,” ujarku yang kebingungan. “Matanya biru, rambutnya pirang, dan sekarang umurnya sudah sepertiga umurmu.” Kapten Andres mengangguk-ngangguk.
“Kalau kamu?” Ia menunjuk Natasha. “Arnold adalah orang aneh! Semua celana dalamnya berwarna biru! Temennya Maikel Jeksen! Suka minum Burpee! Paling anti sama korupsi, eh…..bukan! Itu mah Si Mamat Anak Pasar Jangkrik! Hehehe…,” Natasha tertawa keras setelah itu. “Aku tidak peduli apa warna celana dalamnya, Nona Muda,” sindir Kapten Andres. “Ya sudah kalau begitu. Arnold juga pernah main film, main gitar sampai menerbangkan orang lain, jadi orang tajir, bla, bla, bla…,” Natasha terus bercerocos tentang Arnold. Sejujurnya saja, aku yang memberitahu semua itu, lho. Tapi itu bukan cerita tentang Arnold, itu cerita tentang orang lain. Kami hanya menebak-nebak siapa itu Arnold.
“Terserah!” Kapten Andres mengakhiri pembicaraan Natasha. Aku mendesah lega, karena aku sudah sekian kali mendengarnya. “Sekarang aku izinkan kalian untuk makan,” Kapten Andres melepaskan tali yang sudah mengikat aku dan Natasha selama berjam-jam. “Untunglah kami dibebaskan. Terimakasih, Kapten!” kata Natasha sok imut. Kapten Andres hanya mengangguk. Kami mengikuti Kapten Andres menuju ruang makan.
“Kapten, makanannya apa?” tanyaku. “Yah, biasa. Hanya sup seafood dan nasi,” jawab Kapten Andres. “Hore! Itu makanan favoritku setelah pisang bakar!” celetuk Natasha. “Sssh! Aku menyuruh Natasha diam.
Di ruang makan…
“Mana makanannya, Bob?” tanya Kapten Andres. “Maaf, Kapten. Saya kehabisan lauk untuk makan. Terpaksa saya hanya bisa memberi Anda dan dua anak ini nasi,” jawab Bob dengan lesu. “TIDAAAAAAAAAK!!!!!!!!!!” teriak Natasha. Sepertinya dia lupa untuk diam.
Apa yang akan dimakan oleh Kapten Andres, Rose dan Natasha, dan teman-teman Kapten Andres? Apa yang dilakukan Natasha untuk menghibur teman-teman Kapten Andres? Sebenarnya, siapa itu Arnold? Mengapa manusia tidak punya sayap? (canda)
Semua terjawab di bagian selanjutnya!
Saturday, June 4, 2011
Rose and the Pirates of Dimensia (part 1)
Liburan ini adalah liburan kenaikan kelas yang sangat,sangat membosankan. Aku dan Natasha (yang sedang menginap di rumahku selama liburan ini) sedang jenuh. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Curhat, sudah. Memasak, sudah. Menonton film orang yang aku benci, sudah. Perang bantal, sudah. Apa lagi yang harus kami lakukan?
Aku jadi teringat pengalamanku saat bertemu dengan raja Huahahi dan Maikel Jeksen. Saat itu, aku juga bertemu dengan sahabat sejatiku, Natasha. Sekarang, Maikel Jeksen sudah tak terdengar lagi desas-desusnya. Apa dia meninggal? Atau dia lebih sibuk berjualan popcorn? Aku sama sekali tidak tahu.
Natasha menepuk pundakku. “Hei, lagi mikirin siapa,sih?” tanyanya. Sekarang Natasha tidak pemalu lagi seperti dulu, karena aku (hehehe). “Nggak mikirin siapa-siapa,kok. Cuma bingung, kita harus ngapain,” jawabku sambil membolak-balik majalah milik adikku. Lalu aku menemukan sebuah judul yang menarik. “Wah, ada cerita tentang Bajak Laut dari Dimensia!” seruku. “Aku sudah lama ingin mengetahui kisah mereka.” Natasha langsung duduk di dekatku. “Bacakan keras-keras, dong!” pintanya. “Baiklah.” Aku mulai membaca.
“Pada zaman dahulu kala, hidup sekelompok pemuda yang bermukim di pesisir pantai Dimensia. Pemimpin kelompok mereka adalah Kapten Andres, seorang lelaki gagah yang ringan tangan dan pemurah. Saat itu, istri Kapten Andres, Luciana, sedang sakit keras. Padahal ia sedang hamil. Kapten Andres pun pergi mencari juru rawat. Kata juru rawat yang ia temukan, ia harus berlayar menuju pulau Barteen yang sangat jauh dari pulau Dimensia. Di sana, ia akan menemukan daun mawar putih yang airnya dapat diminum. Maka, Kapten Andres beserta istri dan teman-temannya berlayar dengan kapal yang besar.
Dalam waktu tiga hari, mereka berhasil sampai di pulau Barteen. Itu karena semangat mereka yang tidak pernah luntur. Kapten Andres langsung melompat dari kapalnya dan mencabuti seluruh daun mawar putih yang ada di pulau itu, lalu merebus beberapa helai. Setelah Luciana meminum air rebusan tersebut, ia sembuh. Akan tetapi, ia malah muntah-muntah. Semua rekan Kapten Andres kebingungan.
Beberapa minggu kemudian, dalam perjalanan kembali ke pulau Dimensia, Luciana melahirkan. Anaknya adalah seorang laki-laki berambut pirang dan bermata biru laut. Ia diberi nama Arnold. Sayangnya, Luciana meninggal dunia. Kapten Andres sangat sedih. Sejak itu, ia menjadi penggerutu dan egois. Ia suka mencaci maki teman-temannya, bahkan ada seorang yang dibuang ke laut karena tidak menuruti perkataannya. Walaupun begitu, ia masih sayang pada istrinya, sehingga ia menyimpan jasad Luciana di gudangnya.
Arnold tumbuh menjadi anak yang tampan, ramah, dan pintar, persis ayahnya dulu. Namun, sang ayah tidak menyukainya. Menurutnya, Arnold adalah penyebab kematian istri tercintanya itu. Ia selalu mengomel-ngomel pada Arnold dan memperlakukannya seperti pelayan. Bahkan, Kapten Andres, ayah Arnold, pernah mengunci Arnold di kamarnya. Akhirnya, karena frustasi, Arnold kabur dari kapal ayahnya dengan kapal kecil.
Sampai sekarang, tidak ada yang tahu nasib kapal tersebut, Kapten Andres dan teman-temannya, dan Arnold. Menurut orang-orang, kisah Kapten Andres ini hanyalah legenda. Namun siapa tahu, kamu bisa menemukan Kapten Andres dan anaknya Arnold dengan mata kepalamu sendiri…,”
Aku menghela napas. Ceritanya cukup panjang. Padahal, cerita tersebut hanya berpusat kepada Kapten Andres yang galau karena ditinggal istrinya dan anak laki-lakinya Arnold. “Kapten Andres kejam, ya? Masa’ Arnold diperlakukan seperti Cinderella? Mereka kan berbeda!” komentar Natasha. “Hmmm…,” aku melihat ilustrasi yang ada di cerita tersebut. “Sepertinya wajah Kapten Andres dan Arnold agak familiar, deh…,” Aku mengerutkan dahi. “Maksudmu apa, Rose?” Natasha ikut-ikutan. "Iya juga, sih….,” Natasha ikut-ikutan mengerutkan dahi.
“Rose, ada apa sih, dengan hidupmu? Selalu saja berhubungan dengan orang-orang yang kamu idolakan! Aku jadi bingung,” tiba-tiba Natasha berseru. “Betul juga. Aneh nian hidupku! Sudahlah, aku mau tidur siang. Pusing aku memikirkan semua ini,” aku berjalan menuju kamarku dengan gontai. Natasha kembali mengikutiku.
Namun pada saat aku mau membuka pintu kamarku, tiba-tiba pintu terbuka sendiri! Di dalam pintu itu ada sebuah vortex. Aku dan Natasha tersedot ke dalam vortex tersebut. “AAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHH!!!!!!” teriak kami.
Bagaimanakah nasib Rose dan Natasha? Dibawa kemanakah mereka? Siapakah Kapten Andres dan Arnold yang “familiar”? Mengapa kucing berkaki empat? (canda)
Semua ada di bagian selanjutnya! ^_^
Aku jadi teringat pengalamanku saat bertemu dengan raja Huahahi dan Maikel Jeksen. Saat itu, aku juga bertemu dengan sahabat sejatiku, Natasha. Sekarang, Maikel Jeksen sudah tak terdengar lagi desas-desusnya. Apa dia meninggal? Atau dia lebih sibuk berjualan popcorn? Aku sama sekali tidak tahu.
Natasha menepuk pundakku. “Hei, lagi mikirin siapa,sih?” tanyanya. Sekarang Natasha tidak pemalu lagi seperti dulu, karena aku (hehehe). “Nggak mikirin siapa-siapa,kok. Cuma bingung, kita harus ngapain,” jawabku sambil membolak-balik majalah milik adikku. Lalu aku menemukan sebuah judul yang menarik. “Wah, ada cerita tentang Bajak Laut dari Dimensia!” seruku. “Aku sudah lama ingin mengetahui kisah mereka.” Natasha langsung duduk di dekatku. “Bacakan keras-keras, dong!” pintanya. “Baiklah.” Aku mulai membaca.
“Pada zaman dahulu kala, hidup sekelompok pemuda yang bermukim di pesisir pantai Dimensia. Pemimpin kelompok mereka adalah Kapten Andres, seorang lelaki gagah yang ringan tangan dan pemurah. Saat itu, istri Kapten Andres, Luciana, sedang sakit keras. Padahal ia sedang hamil. Kapten Andres pun pergi mencari juru rawat. Kata juru rawat yang ia temukan, ia harus berlayar menuju pulau Barteen yang sangat jauh dari pulau Dimensia. Di sana, ia akan menemukan daun mawar putih yang airnya dapat diminum. Maka, Kapten Andres beserta istri dan teman-temannya berlayar dengan kapal yang besar.
Dalam waktu tiga hari, mereka berhasil sampai di pulau Barteen. Itu karena semangat mereka yang tidak pernah luntur. Kapten Andres langsung melompat dari kapalnya dan mencabuti seluruh daun mawar putih yang ada di pulau itu, lalu merebus beberapa helai. Setelah Luciana meminum air rebusan tersebut, ia sembuh. Akan tetapi, ia malah muntah-muntah. Semua rekan Kapten Andres kebingungan.
Beberapa minggu kemudian, dalam perjalanan kembali ke pulau Dimensia, Luciana melahirkan. Anaknya adalah seorang laki-laki berambut pirang dan bermata biru laut. Ia diberi nama Arnold. Sayangnya, Luciana meninggal dunia. Kapten Andres sangat sedih. Sejak itu, ia menjadi penggerutu dan egois. Ia suka mencaci maki teman-temannya, bahkan ada seorang yang dibuang ke laut karena tidak menuruti perkataannya. Walaupun begitu, ia masih sayang pada istrinya, sehingga ia menyimpan jasad Luciana di gudangnya.
Arnold tumbuh menjadi anak yang tampan, ramah, dan pintar, persis ayahnya dulu. Namun, sang ayah tidak menyukainya. Menurutnya, Arnold adalah penyebab kematian istri tercintanya itu. Ia selalu mengomel-ngomel pada Arnold dan memperlakukannya seperti pelayan. Bahkan, Kapten Andres, ayah Arnold, pernah mengunci Arnold di kamarnya. Akhirnya, karena frustasi, Arnold kabur dari kapal ayahnya dengan kapal kecil.
Sampai sekarang, tidak ada yang tahu nasib kapal tersebut, Kapten Andres dan teman-temannya, dan Arnold. Menurut orang-orang, kisah Kapten Andres ini hanyalah legenda. Namun siapa tahu, kamu bisa menemukan Kapten Andres dan anaknya Arnold dengan mata kepalamu sendiri…,”
Aku menghela napas. Ceritanya cukup panjang. Padahal, cerita tersebut hanya berpusat kepada Kapten Andres yang galau karena ditinggal istrinya dan anak laki-lakinya Arnold. “Kapten Andres kejam, ya? Masa’ Arnold diperlakukan seperti Cinderella? Mereka kan berbeda!” komentar Natasha. “Hmmm…,” aku melihat ilustrasi yang ada di cerita tersebut. “Sepertinya wajah Kapten Andres dan Arnold agak familiar, deh…,” Aku mengerutkan dahi. “Maksudmu apa, Rose?” Natasha ikut-ikutan. "Iya juga, sih….,” Natasha ikut-ikutan mengerutkan dahi.
“Rose, ada apa sih, dengan hidupmu? Selalu saja berhubungan dengan orang-orang yang kamu idolakan! Aku jadi bingung,” tiba-tiba Natasha berseru. “Betul juga. Aneh nian hidupku! Sudahlah, aku mau tidur siang. Pusing aku memikirkan semua ini,” aku berjalan menuju kamarku dengan gontai. Natasha kembali mengikutiku.
Namun pada saat aku mau membuka pintu kamarku, tiba-tiba pintu terbuka sendiri! Di dalam pintu itu ada sebuah vortex. Aku dan Natasha tersedot ke dalam vortex tersebut. “AAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHH!!!!!!” teriak kami.
Bagaimanakah nasib Rose dan Natasha? Dibawa kemanakah mereka? Siapakah Kapten Andres dan Arnold yang “familiar”? Mengapa kucing berkaki empat? (canda)
Semua ada di bagian selanjutnya! ^_^
Tuesday, March 8, 2011
Hai Lagi Semuanya!
Sesuai judul post ini, aku hanya ingin mengucapkan hallo bagi para pembaca setia. Apa kabar? Maaf kalau aku jarang nge-post, karena aku tak punya waktu! Semoga kalian gak bosan dengan post-postku sebelumnya, ya!
Kabarku baik-baik saja. Sekarang aku kelas 5. Sebentar lagi kelas 6. Emmm, sudah ya, semuanya! Aku bingung mau tulis apa. Sampai ketemu lagi kapan-kapan! ^o^
-Tiara
Kabarku baik-baik saja. Sekarang aku kelas 5. Sebentar lagi kelas 6. Emmm, sudah ya, semuanya! Aku bingung mau tulis apa. Sampai ketemu lagi kapan-kapan! ^o^
-Tiara
Sunday, January 9, 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)